Britanusantara.id, Tanjabtim – Memasuki peralihan musim dari hujan ke kemarau basah, petani sayur di Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjab Timur mulai menanam.
Kondisi cuaca seperti itu, metode olah Mulsa tanpa mengelola tanah menjadi solusi yang dipilih petani setempat.
Sebeba, mengolah lahan tanpa harus membakar menjadi semangat baru dalam dunia pertanian, perubahan iklim yang semakin nyata.
Petani setempat yang mengadopsi metode ini. Selain dianggap lebih efisien untuk tumbuh kembang tanaman sayur, metode ini juga menghindari munculnya kasus Karhutla.
Arif, seorang petani di Desa Lagan Ulu, Kecamatan Geragai ini mengatakan, tidak hanya mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, metode Muslsa ini juga membuka peluang untuk mendapatkan keuntungan yang signifikan.
“Metode Mulsa tanpa olah tanah atau MTOT ini sangat cocok musim peralihan untuk berbagai macam sayuran,” jelasnya.
Ia menjelaskan, metode ini menggunakan lapisan penutup organik di bedengan lahan pertanian. Seperti jerami, daung kering atau rumput kering.
“Lahan pertanian ini dibuka tanpa membakar lahan. Mulai dari pembukaan lahan hingga proses penanaman,” jelasnya.
Berdasarkan pengalamannya, penanaman sayur dengan metode ini hanya membutuhkan waktu sekitar 6 minggu, mulai dari masa tanam hingga panen.
Untuk hasil panen, nilai rupiah yang didapatkan dalam satu baris dengan metode tanam MTOT bisa mencapai Rp 500 ribuan.
“Sedangkan untuk metode konvensional, hasil yang didapat sekitar Rp 300 ribu,” ungkapnya.
Sebagai seorang petani, dirinya merasa metode pertanian dengan MTOT biaya produksinya lebih rendah dibandingkan konvensional.”Hematnya biaya produksi ini karena, satu lubang tanam bisa digunakan untuk berbagai jenis tanaman,” pungkasnya. (GN)















Discussion about this post